• Headlines News :
    Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan

    Kisah Petani Kentang Yang Beruntung


    Petani Kentang Yang Beruntung - Cerita kali ini diawali di sebuah desa yang sangat kering, hiduplah seorang petani kentang yang sangat sabar dalam menjalani hidupnya. Di desa yang sangat kering itu, jarang sekali hujan yang turun disana hingga bisa dihitung berapa kali hujan yang turun dalam setahunnya. Petani tersebut tinggal disebuah bukit hutan jati yang meranggas daun-daunnya. Desa tersebut hanya dihuni oleh beberapa kepala keluarga karena banyak penduduk yang sudah berpindah ke desa lain akibat kekeringan yang melanda desa itu.

    Pada suatu hari, petani tersebut hendak menuju ke kebun kentang yang berjarak puluhan kilometer dari rumahnya. Dalam perjalanan dia menemukan sebuah pohon jati yang nampak rindang. dia berhenti sebentar di pohon jati tersebut sambil memperhatikan dengan seksama. Ternyata dibawah pohon jati ada sebuah kendi yang berisi air.

    Karena merasa sangat haus, sang petani tadi sangat ingin meminum air yang ada di dalam kendi tersebut. Namun karena sadar kalau air itu mungkin ada yang punya, akhirnya si petani tadi mengurungkan niatnya, kemudian ia melanjutkan perjalanannya kembali.

    Setelah beberapa kilometer berjalan, petani tadi menemukan sebongkah emas yang sangat mengkilat dari kejauhan, tergopoh-gopoh si petani berlari ingin melihat benda apa yang sangat mengkilat tadi, ternyata setelah di dekati, petani tadi sangat terkejut melihat ada sebongkah emas yang sangat besar. Petani itu sangat tergiur dengan emas tadi, tapi terlintas kembali di benaknya bahwa barang tersebut bukan miliknya, "mungkin saja ada orang yang kehilangan emas ini", ditaruhnya kembali emas tadi, kemudian petani tadi kembali berjalan.

    Hingga sebelum sampai di kebun kentang miliknya, petani tadi melihat sebuah ranting yang menghalangi jalan yang dilaluinya, dengan susah payah ia memindahkan ranting yang cukup besar tadi ke pinggir jalan.

    Sesampainya di kebun kentang, si petani beristirahat di sebuah pohon yang cukup rindang daunnya. Tanpa disadari ternyata pohon tersebut adalah pohon yang belum ia lihat sebelumnya. Ia pun terkejut dan bertanya di dalam hati. "Bagaimana mungkin di daerah yang tandus begini ada sebuah pohon yang sangat rindang?", ia pun mengelilingi pohon tersebut sambil terheran melihat pohon tersebut.

    Tiba-tiba terdengar suara, "Wahai petani, kau sangat jujur dan baik hati. Aku sangat menghargai sikapmu yang sabar dan tidak mengambil yang bukan milikmu. Kini engkau boleh menikmati semua yang ada di kebun kentang mu ini". Terkejut sekali petani mendengar suara tersebut, ia bertanya-tanya apakah ia dalam mimpi.

    Kemudian ia bergerak ke kebun kentangnya dan mulai mencabuti kentang yang sudah bisa dipanen olehnya. Alangkah terkejut si petani mendapati kentangnya sangat bagus sekali, karena selama ini panen kentangnya sangat mengecewakan, banyak kentang yang kering dan bongkolnya kecil serta banyak yang busuk. Si petani pulang dengan senang dan gembira mendapatkan hasil panen yang bagus hari ini


    Hikmah dongeng anak kali ini adalah jangan mengambil sesuatu yang bukan hak kita, jika kita tetap bersabar dan terus berusaha, pasti suatu saat kita akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan kebajikan yang kita kerjakan. 

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Cerita Anak Kancil dan Keong


    Kancil dan keong sudah lama bersahabat.  Pada suatu hari mereka pergi menangkap ikan disebuah danau.Berjumpalah mereka dengan seekor kijang.  Kijangingin ikut.  Lalu mereka pergi bertiga.

    Sampai disebuah bukit mereka bertemu dengan seekor rusa.  Rusa juga ingin ikut.  Segera rusa bergabung dalam rombongan.  Dalam perjalanan, disebuah lembah berjumpalah mereka dengan seekor babi hutan.  Babi hutan menayakan apakah ia boleh ikut.  "Tentu saja, itu gagasan yang baik, daripada hanya berempat lebih baik berlima," jawab keong.

    Setiba di bukit yang berikutnya, berjumpalah mereka dengan seekor beruang.  Lalu mereka berenam
    melanjutkan perjalanannya.  Kemudian mereka bertemu dengan seekor badak.  "Bagaimana kalau aku ikut," tanya badak.  "Mengapa tidak?", jawab semua.  Bahkan lalu bergabung pula seekor banteng.

    Kali berikutnya rombongan kancil bertemu dengan seekor kerbau yang akhirnya ikut serta.  Begitu pula ketika mereka bertemu dengan seekor gajah.  Demikianlah, mereka bersepuluh berjalan berbaris beriringan mengikuti kancil dan akhirnya mereka sampai ke danaumyang dituju.  Bukan main banyaknya ikan yang berhasil ditangkap.  Ikan kemudian disalai dengan mengasapinya dengan nyala api sampai kering.

    Keesokan harinya, beruang bertugas menjaga ikan-ikan ketika yang lainnya sedang pergi menangkap ikan. Tiba-tiba seekor harimau datang mendekat.  Tak lama kemudian beruang dan harimau terlibat dalam perkelahian seru.  Beruang jatuh pingsan dan ikan-ikan habis disantap harimau.

    Berturut-turut mereka kemudian menugasi gajah, banteng, badak, kerbau, babi hutan, rusa dan kijang, semuanya menyerah.  Sekarang tinggal keong dan kancil yang belum terkena giliran menunggu ikan. Keong dianggap tidak mungkin berdaya menghadapi harimau, maka diputuskanlah kancil yang akan menjaga. Sebelum teman-temannya pergi menangkap ikan, dimintanya mereka mengumpulkan rotansebanyak-banyaknya.  Lalu masing-masing dipotong kira-kira satu hasta.  Tak lama kemudian tampak kancil sedang sibuk membuat gelang kaki, gelang badan, gelang lutut dan gelang leher.  Sebentar-sebentar kancil memandang ke langit seolah-olah ada yang sedang diperhatikannya.  Harimau terheran-heran, lalu perlahan-lahan mendekati si kancil.  Kancil pura-pura tidak mempedulikan harimau.

    Harimau bertanya, "Buat apa gelang rotan bertumpuk-tumpuk itu?".  Jawab kancil, "Siapa yang memakai gelang-gelang ini akan dapat melihat apa yang sedang terjadi di lagit".  Lalu dia menengadah sambil seolah-olah sedang menikmati pemandangan di atas. Terbit keinginan harimau untuk dapat juga melihat apa yang terjadi di langit.

    Bukan main gembiranya kancil mendengar permintaan harimau.  Dimintanya harimau duduk di tanah melipat tangan dan kaki.  Lalu dilingkarinya kedua tangan, kedua kaki dan leher harimau dengan gelang-gelang rotan sebanyak-banyaknya sehingga harimau tidak dapat bergerak lagi.

    Setelah dirasa cukup, rombongan si kancil berniat kembali pulang ke rumah, akan tetapi mereka bertengkar mengenai bagian masing-masing.  Mereka berpendapat, siapa yang berbadan besar akan mendapatkan bagian yang besar pula.  Kancil sebenarnya tidak setuju dengan usulan tersebut.  Lalu dia mencari akal.

    Tiba-tiba melompatlah kancil dan memberi tanda ada marabahaya.  Semuanya ketakutan dan terbirit-birit melarikan diri.  Ada yang jatuh tunggang langgang, ada yang terperosok ke lubang dan ada pula yang tersangkut akar-akar.  Salaipun mereka tinggalkan semua.  Hanya kancil dan keong yang tidak lari.  Berdua mereka pulang dan berjalan berdendang sambil membawa bungkusan yang sarat ikan.

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Kisah Cinta Kucing Jantan dan Anjing Betina


    “Lagi ngapain nih anjing cantik?” tanya seekor kucing jantan yang mencoba untuk merayu anjing betina yang sedang duduk sendiri di sudut pasar.
    “Aku lagi kelaparan nih, dari kemaren belum makan” jawab anjing betina itu dengan suara sedikit tertahan karena menahan lapar.

    ‘Kasian banget kamu… ya sudah, tunggu disini bentar ya… aku mau mengambilkan sesuatu untukmu” kucing jantan itu pun langsung berlari ke sebuah tempat yang tak jauh dari pasar tersebut dan mengambil tulang ikan yang ada di sana.

    “Ini buat kamu (memberikan tulang ikan tersebut). Tadi pas aku jalan-jalan nggak sengaja aku melihat tulang ikan itu. Tapi karena aku bukan pemakan tulang, jadi tulang itu buat kamu aja” (tersenyum)
    “Wah, kamu baik banget… makasih banyak yaa” (tersenyum)

    Kucing itu pun merasa ingin terbang saking senengnya mendapat pujian dari anjing cantik tersebut. Dia bingung dengan apa yang dia rasakan saat itu. ‘Apakah aku menyukainya?!’ dia pun bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.
    “Ya sudah, aku pulang duluan yaa… makasih banget loh sudah ngasih aku makanan (terseyum)” anjing itu pun berpamitan kepada kucing.

    Setelah pertemuan itu, kucing jantan itu pun selalu memikirkan anjing betina yang telah membuat jantungnya berdetak sangat kencang tersebut.
    Dia pun tidak bisa menahan perasaannya dan berniat untuk langsung mengungkapkan perasaannya kepada anjing betina tersebut.
    Esok harinya, kucing itu pun datang menghampiri anjing betina yang dia temui di sudut pasar kemaren.

    “Anjing cantik… Aku boleh jujur nggak sama kamu?” tanya kucing.
    “Boleh kok, mau jujur apa emangnya?” tanyanya heran.
    “Emmm… begini, sebenernya aku ini suka sama kamu, kamu mau nggak jadi pacarku?” tanya kucing jantan itu dengan perasaan deg-degan.

    “Apa katamu?! Kamu suka sama aku?!” anjing betina itu pun merasa sangat kaget mendengar pernyataan dari kucing jantan tersebut.
    “Iya… aku suka sama kamu dan aku ingin hidup bersamamu, kamu mau kan jadi pendamping hidupku?” tanya kucing lagi.
    “Aku minta maaf yaa kucing, kayaknya aku nggak bisa nerima cintamu, kita ini diciptakan berbeda. Seharusnya kamu mencintai seekor kucing, bukan mencintai seekor anjing seperti aku ini” jawab anjing.

    “Tapi aku suka sama kamu. Aku mau kamu jadi pendamping hidupku! Aku mau kamu yang menjadi alasan aku bahagia di dunia ini… apakah aku salah?!” kucing jantan itu pun mencoba untuk memperjuangkan cintanya.

    “Bukannya gitu! Aku juga sebenarnya suka sama kamu, tapi kita juga harus menyadari bahwa kita ini berbeda. Kita nggak mungkin bersatu!”
    “Tapi aku nggak mau kehilangan kamu! Aku sayang banget sama kamu!” isak kucing.
    “Maafkan aku kucing… kayaknya aku bener-bener nggak bisa nerima cinta kamu. Kita itu memang ditakdirkan bukan untuk bersama. Aku berharap kamu bisa ngertiin aku, kucing” anjing itu pun mengeluarkan air mata.

    “Baiklah… jika itu yang kamu mau. Aku akan mencoba buat ngilangin perasaanku ini, aku nggak akan maksa kamu lagi buat jadi pendamping hidupku” kucing itu pun mencoba untuk tetap tegar menerima takdirnya.

    “Makasih yaa kucing, kamu sudah ngertiin aku. Dan sekarang relakanlah aku pergi. Aku ingin mencari pasangan hidupku yang sebenernya, yang sejenis denganku. Dan kamu juga silahkan cari pasangan yang sejenis denganmu. Semoga kamu bahagia dengan pasanganmu nanti” kata anjing betina itu sambil menahan rasa sedihnya.

    “Baiklah, kalau itu yang terbaik… semoga kamu juga bahagia dengan pasanganmu nanti, selamat tinggal… anjing” kucing itu pun berlari sambil meneteskan air mata. Tak terkecuali anjing, dia pun menangis melihat kepergian kucing yang sebenarnya ia cintai. Mereka pun akhirnya berpisah dan menjalani hidup mereka masing-masing.
    Beberapa bulan kemudian, akhirnya kucing pun menemukan pasangan yang sejenis dengannya dan mereka saling mencintai.

    Tak terkecuali anjing, dia pun menemukan pasangan yang sejenis dengannya dan hidup bahagia. Bahkan, mereka sudah mempunyai lima ekor anak.
    Namun, dibalik kebahagiaan mereka, kucing dan anjing tersebut sebenarnya masih saling mencintai. Tetapi mereka juga menyadari bahwa mereka sudah memiliki pasangan satu sama lain. Jadi jalan yang terbaik adalah mencoba untuk saling melupakan dan menjalani kehidupan mereka masing-masing…
    ---SELESAI---


    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Cerita Anak: Pangeran Kodok


    Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang putri yang cantik jelita. Karena kecantikannya juga dia menjadi terkenal seantero jagat raya. Bahkan konon sang rembulan pun menjadi malu untuk bersinar karena merasa kalah dengan kecantikan si putri. Kulit tubuh sang putri yang halus dan bersinar, membuat kagum semua orang yang melihatnya. Sang putri tinggal di istana yang megah, bersama para pelayan-pelayannya.

    Di dekat istana tersebut terletak hutan kayu yang gelap dan rimbun, dan di hutan tersebut, di bawah sebuah pohon tua yang yang mempunyai daun-daun berbentuk hati, ada sebuah sumur dan ketika cuaca panas, putri Raja yang cantik jelita sering ke hutan tersebut untuk duduk di tepi sumur yang dingin, dan jika waktu terasa panjang dan membosankan, dia akan mengeluarkan bola yang terbuat dari emas, melemparkannya ke atas dan menangkapnya kembali, hal ini menjadi hiburan putri raja untuk melewatkan waktu.

    Suatu ketika, bola emas itu dimainkan dan dilempar-lemparkan keatas, bola emas itu tergelincir dari tangan putri Raja dan terjatuh di tanah dekat sumur lalu terguling masuk ke dalam sumur tersebut. Mata putri raja hanya bisa memandangi bola tersebut meluncur kedalam sumur yang dalam, begitu dalamnya hingga dasar sumur tidak kelihatan lagi. Putri raja tersebut mulai menangis, dan terus menangis seolah-olah tidak ada hyang bisa menghiburnya lagi. Di tengah-tengah tangisannya dia mendengarkan satu suara yang berkata kepadanya,

    "Apa yang membuat kamu begitu sedih, sang Putri? air matamu dapat melelehkan hati yang terbuat dari batu."

    Dan ketika putri raja tersebut melihat dari mana sumber suara tersebut berasal, tidak ada seseorangpun yang kelihatan, hanya seekor kodok yang menjulurkan kepala besarnya yang jelek keluar dari air.

    "Oh, kamukah yang berbicara?" kata sang putri; "Saya menangis karena bola emas saya tergelincir dan jatuh kedalam sumur."

    "Jangan kuatir, jangan menangis," jawab sang kodok, "Saya bisa menolong kamu; tetapi apa yang bisa kamu berikan kepada saya apabila saya dapat mengambil bola emas tersebut?"

    "Apapun yang kamu inginkan," katanya; "pakaian, mutiara dan perhiasan manapun yang kamu mau, ataupun mahkota emas yang saya pakai ini."

    "Pakaian, mutiara, perhiasan dan mahkota emas mu bukanlah untuk saya," jawab sang kodok; "Bila saja kamu menyukaiku, dan menganggap saya sebagai teman bermain, dan membiarkan saya duduk di mejamu, dan makan dari piringmu, dan minum dari gelasmu, dan tidur di ranjangmu, - jika kamu berjanji akan melakukan semua ini, saya akan menyelam ke bawah sumur dan mengambilkan bola emas tersebut untuk kamu."

    "Ya tentu," jawab sang putri raja; "Saya berjanji akan melakukan semua yang kamu minta jika kamu mau mengambilkan bola emas ku."

    Tetapi putri raja tersebut berpikir,  "Omong kosong apa yang dikatakan oleh kodok ini! seolah-olah sang kodok ini bisa melakukan apa yang dimintanya selain berkoak-koak dengan kodok lain, bagaimana dia bisa menjadi pendamping seseorang."

    Tetapi kodok tersebut, begitu mendengar sang putri mengucapkan janjinya, menarik kepalanya masuk kembali ke dalam ari dan mulai menyelam turu, setelah beberapa saat dia kembali kepermukaan dengan bola emas pada mulutnya dan melemparkannya ke atas rumput.

    Putri raja menjadi sangat senang melihat mainannya kembali, dan dia mengambilnya dengan cepat dan lari menjauh.

    "Berhenti, berhenti!" teriak sang kodok; "bawalah aku pergi juga, saya tidak dapat lari secepat kamu!"

    Tetapi hal itu tidak berguna karena sang putri itu tidak mau mendengarkannya dan mempercepat larinya pulang ke rumah, dan dengan cepat melupakan kejadian dengan sang kodok, yang masuk kembali ke dalam sumur.

    Hari berikutnya, ketika putri Raja sedang duduk di meja makan dan makan bersama Raja dan menteri-menterinya di piring emasnya, terdengar suara sesuatu yang meloncat-loncat di tangga, dan kemudian terdengar suara ketukan di pintu dan sebuah suara yang

    berkata "Putri raja, biarkanlah saya masuk!"

    Putri Raja yang itu kemudian berjalan ke pintu dan membuka pintu tersebut, ketika dia melihat seekor kodok yang duduk di luar, dia menutup pintu tersebut kembali dengan cepat dan tergesa-gesa duduk kembali di kursinya dengan perasaan gelisah. Raja yang menyadari perubahan expresi putrinya tersebut berkata,

    "Anakku, apa yang kamu takutkan? apakah ada raksasa berdiri di luar pintu dan siap untuk membawa kamu pergi?"

    "Oh.. tidak," jawabnya; "tidak ada raksasa, hanya kodok jelek."

    "Dan apa yang kodok itu minta?" tanya sang Raja.

    "Oh papa," jawabnya, "ketika saya sedang duduk di sumur kemarin dan bermain dengan bola emas, bola tersebut tergelincir jatuh ke dalam sumur, dan ketika saya menangis karena kehilangan bola emas itu, seekor kodok datang dan berjanji untuk mengambilkan bola tersebut dengan syarat bahwa saya akan membiarkannya menemaniku, tetapi saya

    berpikir bahwa dia tidak mungkin meninggalkan air dan mendatangiku; sekarang dia berada di luar pintu, dan ingin datang kepadaku."

    Dan kemudian mereka semua mendengar kembali ketukan kedua di pintu dan berkata,

    "Putri Raja yang, bukalah pintu untuk saya!, Apa yang pernah kamu janjikan kepadaku? Putri Raja, bukalah pintu untukku!"

    "Apa yang pernah kamu janjikan harus kamu penuhi," kata sang Raja; "sekarang biarkanlah dia masuk."

    Ketika dia membuka pintu, kodok tersebut melompat masuk, mengikutinya terus hingga putri tersebut duduk kembali di kursinya. Kemudian dia berhenti dan memohon, "Angkatlah saya supaya saya bisa duduk denganmu."

    Tetapi putri Raja tidak memperdulikan kodok tersebut sampai sang Raja memerintahkannya kembali. Ketika sang kodok sudah duduk di kursi, dia meminta agar dia dinaikkan di atas meja,dan disana dia berkata lagi,

    "Sekarang bisakah kamu menarik piring makanmu lebih dekat, agar kita bisa makan bersama."Sang putri Raja tersebut melakukan apa yang diminta oleh sang kodok, tetapi semua dapat melihat bahwa putri tersebut hanya terpaksa melakukannya.

    "Saya merasa cukup sekarang," kata sang kodok pada akhirnya, "dan saya merasa sangat lelah, kamu harus membawa saya ke kamarmu, saya akan tidur di ranjangmu."

    Kemudian putri Raja tersebut mulai menangis membayangkan kodok yang dingin tersebut tidur di tempat tidurnya yang bersih. Sekarang sang Raja dengan marah berkata kepada putrinya,

    "Kamu adalah putri Raja dan apa yang kamu janjikan harus kamu penuhi." Sekarang putri Raja mengangkat kodok tersebut dengan tangannya, membawanya ke kamarnya di lantai atas dan menaruhnya di sudut kamar, dan ketika sang putri mulai berbaring untuk tidur, kodok tersebut datang dan berkata, "Saya sekarang lelah dan ingin tidur seperti kamu, angkatlah saya keatas ranjangmu, atau saya akan melaporkannya kepada ayahmu."

    Putri raja tersebut menjadi sangat marah, mengangkat kodok tersebut keatas dan melemparkannya ke dinding sambil menangis,

    "Diamlah kamu kodok jelek!"

    Tetapi ketika kodok tersebut jatuh ke lantai, dia berubah dari kodok menjadi seseorang pangeran yang sangat tampan. Saat itu juga pangeran tersebut menceritakan semua kejadian yang dialami, bagaimana seorang penyihir telah membuat kutukan kepada pangeran tersebut, dan tidak ada yang bisa melepaskan kutukan tersebut kecuali sang putri yang telah di takdirkan untuk bersama-sama memerintah di kerajaannya.

     Dengan persetujuan Raja, mereka berdua dinikahkan dan saat itu datanglah sebuah kereta kencana yang ditarik oleh delapan ekor kuda dan diiringi oleh Henry pelayan setia sang Pangeran untuk membawa sang Putri dan sang Pangeran ke kerajaannya sendiri. Ketika kereta tersebut mulai berjalan membawa keduanya, sang Pangeran mendengarkan suara seperti ada yang patah di belakang kereta. Saat itu sang Pangeran langsung berkata kepada Henry pelayan setia, "Henry, roda kereta mungkin patah!", tetapi Henry menjawab, "Roda kereta tidak patah, hanya ikatan rantai yang mengikat hatiku yang patah, akhirnya saya bisa terbebas dari ikatan ini".

    Ternyata Henry pelayan setia telah mengikat hatinya dengan rantai saat sang Pangeran dikutuk menjadi kodok agar dapat ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh sang Pangeran, dan sekarang rantai tersebut telah terputus karena hatinya sangat berbahagia melihat sang Pangeran terbebas dari kutukan.



    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Akibat Jajan Sembarangan

    Pada suatu hari lula dan ibunya pergi ke pasar untuk membeli sayuran. Tiba-tiba terdengar suara”tung,tung,tung” Ternyata ada penjual es krim, lula ingin sekali es krim itu tetapi ibu nya tidak memboleh kan nya.
    Setelah pulang dari pasar, ibunya memesan kepada lula untuk di sekolahan tidak membeli jajan sembarangan.

    Pada pagi hari yang sangat cerah, terdengar suara “teeeeet,teeet,teeet” bertanda istirahat, pada saat itu lula bersama teman-teman nya pergi ke kantin untuk membeli jajan. Ternyata kantin itu menjual es krim, lula ingin sekali membelinya.

    Akhirnya lula juga membeli es krim itu, dia tak peduli pesan ibunya. lula sangat senang karna bisa makan es krim “wah, es krim ini enak dan segar” kata lula.
    Sesampai di rumah perut lula sakit. ibunya langsung membawa lula ke dokter.
    sampai di rumah ibunya langsung bertanya kepada lula “lula tadi kamu minum es kan?” tanya ibunya “iya” jawab lula

    Ini kan akibat nya kalau kamu tidak mendengarkan pesan ibu, jadinya kamu sakit sepeti ini. Akhirnya lula pun mendengarkan pesan ibunya.

    Dikirim oleh:

    Nur Izzatul Mujidah (5B SD Jatisari)


    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Arti Persahabatan

    Di pagi yang cerah ini, pertama kali gue masuk SMP.Pertama kali gue masuk kelas,gue di suruh memperkenalkan diri,namaku Kiki Margareta Azahra panggil saja aku kiki.Selama tiga bulan masuk SMP gue di nilai sama teman-teman gue tomboy karena gue pandai pada pelajaran silat, dan pelajaran yang lain gue di nilai biasa saja.
    Di taman sekolah gue duduk sendirian sambil berkata “mana mungkin ada teman yang akan menjadi sahabatku?” dengan wajah cemas. Mendengar perkataan itu temannya si Candy langsung berkata “jangan berkata seperti itu, siapa yang tidak mau bersahabat dengan mu, gue mau kok jadi sahabat lho”.
    Dengan wajah gembira Kiki berkata “lho mau jadi sahabat gue?,gue orangnya tomboy loh!” “ya gak papa persahabatan itu tidak di pandang dari tomboy tetapi datang dari diri sendiri” sahut Candy dengan bersemangat.”mulai saat ini kita bersahabat ya!” sahut Kiki lagi.
    “Iya” kata Candy “sahabat sejati ya namanya ” sahut Kiki “okey-okey” jawab Candy. Setelah itu mereka bertukar nomor HP,dan alamat.Dalam pelajaran silat Candy dan Kiki masih pandai Kiki, tetapi bila pelajaran lain Candy lah yang menjadi juara nya. Mereka berdua bersaing.
    pada waktu ulangan nilai Kiki kalah baguz oleh Candy, walaupun kurang baguz, Kiki tetap berusaha. Agar nilai Kiki baguz dia jarang latihan silat, tetapi sering belajar sampai-sampai tidur hingga malam. Karna tidur hingga malam, kiki pun bangun kesiangan, dan sesampai sekolah di hukum, karna terlambat.
    Suatu saat ketika ulangan matematika nilai Candy kalah baguz dengan Kiki. Merekapun bersaing untuk mencapai nilai terbaik. Pada suatu hari, Candy akan ke rumah Kiki, untuk belajar silat. setelah belajar silat, mereka pergi ke suatu tempat yang indah yaitu taman bunga.
    “persahabatan itu bagaikan bunga dan tangkainya yang s’lalu bersatu melawan panasnya matahari dan hujan” kata kiki “tapi kiki bila bunga dan tangkainya s’lalu bersatu melawan panasnya matahari dan hujan yang sangat kuat, apakah bisa?” sahut candy “mungkin saja” kata kiki
    Setelah pulang dari taman, mereke pergi melukis di rumah kiki. kiki melukis sebuah bunga dan tangkainya yang bersatu melawan panasnya matahari, sedangkan candy melukis sebuah persahabatan antara candy dan kiki. candy iseng-iseng saja melakukan hal ini yaitu:
    mengambil cat air dan menumpahkan ke badan kiki, sampai cat air nya pun habis. Setelah itu kiki harus membelinya di seberang jalan raya. Menyebrang dengan hati-hati pun telah dijalani, tetapi ada mobil yang melaju sangat kencang tiba-tiba suara “bruuuuk..” kiki terjatuh. ketika kiki sadar tak taunya sudah di rumah sakit.
    Dia pun langsung bertanya “dimana candy, dimana candy?” tak tersangka candy telah hanyut nyawanya karena menolong kiki ketika akan di tabrak, mendengar masalah itu kiki menangis sambil berkata ” apakah ini yang namanya persahabatan?, dia sayang padaku, I LOVE YOU TOO” Kata terakhir yang di katakan kiki kepada candy. Walaupun kehilangan sahabatnya, dia tidak akan melupakan nya.

    Karya: Liesma romadhona,no:14
    Kelas  : V SDN Jatisari

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Cerita Anak: Serigala dan Monyet


    Di sebuah hutan belantara, hiduplah seekor serigala yang sedang hamil tua. Pada saat ia berjalan menyusuri hutan mencari mangsa, tiba-tiba terdengar bayi yang sedang menangis di sela-sela semak belukar. Ketika serigala itu menghampiri, ternyata seekor anak monyet yang masih bayi tergolek sendirian tanpa diketahui kemana dan siapa induknya.


    Serigala iba melihatnya. Karena iapun merasa penat dan terasa akan melahirkan, maka ia memutuskan untuk istirahat di situ, sampai akhirnya ia melahirkan 2 ekor bayi. Meskipun demikian, induk serigala tidak ingin meninggalkan anak monyet tersebut sendirian. Maka ia berniat mengurus 3 anak, di antaranya 1 anak monyet, dan lagi anaknya. Dengan penuh kasih, induk serigala tersebut mengasuh dan menyusi ketiganya. Anehnya anak monyet tidak segan-segan menyusu ke induk serigala.

    Semakin lama ketiga anak tersebut semakin besar dan mulai bisa berjalan, tetapi anak monyet itu masih merasa bahwa induk serigala adalah ibunya. Setelah mereka mulai bisa makan, barulah terasa ada perbedaan diantara mereka. Anak monyet gemar memakan buah-buahan. Dengan mudahnya ia mamanjat pepohonan yang ada di hutan itu untuk memetik buahnya. Berbeda dengan anak-anak serigala. Mereka lebih suka memakan daging dan kerap kali induk serigala membawa mangsanya untuk diberikan kepada anak-anaknya. Setelah anak-anak serigala itu dapat mencari makanannya sendiri, barulah induk serigala melepasnya.


    Ketika mereka semakin dewasa, anak-anak serigala dan monyet pun akhirnya mulai mandiri. Mereka bertiga bermain, mencari mangsa dan tidur bersama. Dalam perjalan mencari mangsa yang jauh, tanpa disadari satu dari anak serigala itu terpisah dari mereka dan hilang entah kemana, sehingga mereka tinggal berdua menyusuri hutan belantara. Tiba-tiba mereka mendengar lolongan serigala yang minta tolong, suaranya syup-sayup terdengar amat jauh. Keduanya baru mengetahui bahwa satu diantaranya tidak ada. Mereka berpikir bagaimana caranya menemukan anak serigala yang hilang itu.


    Karena anak monyet bisa memanjat, di mencarinya sambil bergelantung di atas pohon. Anak serigala yang satu berlari mengikuti monyet dari bawah. Sangat sulit menembus hutan belantara yang lebat itu. Lolongan serigala itu pun tiada henti dan semakin lama terdengar semakin dekat. Anak serigala mulai mengendus-endus dengan penciumannya yang tajam. Akhirnya, karena kecerdikannya, mereka berhasil menemukan tempat dimana anak serigala itu berada. Ternyata ia tercebur ke dalam sumur perangkap yang dibuat para pemburu.

    Untuk menolong saudaranya, monyet membuat tali yang terbuat dari kulit pohon yang ada di sekitar tempat itu. Dimasukkannya tali tersebut kedalam sumur. Sementara anak serigala yang satu menggigit ujung tali tersebut dengan giginya yang sangat kuat dari atas, anak monyet masuk ke dalam sumur. Setelah sampai dibawah, monyet merasa iba melihat keadaan anak serigala yang lemas tak berdaya. “Kasihan sekali engkau, sudah dua hari lamanya kita berpisah, dan pasti kau tidak makan apapun selama itu.” Akhirnya mereka berhasil menarik anak serigala itu dari dalam sumur. Anak serigala yang satu terharu melihat keadaan saudaranya lemas hamper tanpa daya.
    Dengan cepat monyet memanjat pohon unyuk mencari minum untuk saudaranya itu. Tidak beberapa lama setelah itu, sang anak serigala pun dengan perlahan kembali segar. Keduanya amat berterima-kasih kepada monyet karena telah menyelamatkannya. Mereka pun bersepakat untuk pulang ke sarang menemui induk serigala.


    Sesampai di sarang, mereka mendapati induk serigala sedang berjalan kesana-kemari dengan gelisah. Begitu melihat ketiga anaknya, ia pun berseru, “Anak-anakku, kemana saja kalian selama ini? Aku mencari kalian kemana-mana, bahkan aku berpikir bahwa kalian habis di mangsa singa atau di makan oleh pemburu.”


    Kedua anak serigala itu pun akhirnya menceritakan semua peristiwa yang baru saja mereka alami. Induk serigala merasa terharu dan amat berterimakasih kepada anak monyet. Ia juga tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan karena mereka semua dapat bertemu kembali. Setelah keadaan tenang, induk serigala berkata kepada anak-anaknya, “Anak-anakku, sekarang aku sudah mulai tua, tidak kuat lagi mencari mangsa terlalu jauh. Karena itu, jika kalian berburu, jangan terlalu lama. Cepat kembali ke sarang iani untuk melihatku.” Tanpa diminta anak monyet berkata, “Aku, akulah yang akan menemanimu, ibu. Bagiku mencari makan tidak harus jauh, di sekitar sini buah-buahhan dan daun-daun muda masih cukup banyak. Biarlah anak-anak ibu yang lain pergi jauh mencari mangsa, nanti aku akan memberitahukan keadaanmu pada mereka.”


    Mendengar apa yang dikatakan monyet padanya, maka tenanglah induk serigala. Ia bisa menikmati hari tuanya di temani ole monyet dan kedua anaknya. Mereka bisa saling berbagi disaat suka maupun duka. Monyet pun merasa puas dengan keadaan ini. Ia bersyukur di berikan kesempatan oleh Tuhan untuk membalas kebaikan serigala

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Cerita Anak: Burung Merak dan Burung Gagak


    Disebuah taman yang sangat luas dan indah, hiduplah sekawanan burung merak. Betapa menakjubkan, dimana-mana terlihat ekor merak jantan yang indah mengembang. Apalagi jika musim kawin tiba, para merak jantan mengembangkan ekor mereka sehingga terlihat seperti kipas  nan cantik untuk memikat betina. Burung-burung merak itu senang sekali tinggal di taman ini karena di samping banyak buah juga banyak biji-bijian yang mereka gemari. Namun, keindahan bulu mereka tidak membuat mereka sombong, mereka tetap rendah hati.

                Suatu hari, saat burung-burung merak bermain, tiba-tiba seekor burung gagak betina. Burung Gagak sangat iri melihat kecantikan Burung Merak. Setelah terbang kian kemari, akhirnya Burung Gagak ini bisa mencuri sehalai bulu ekor Burung Merak yang indah, lalu ia tancapkan ke ekornya.

                Kemudian Burung Gagak berkata, “Hai Merak, bukankah aku sekarang yang tercantik di antara kalian?” Burung Merak pun terkejut melihat Burung Gagak dengan bulunya yang menancap di ekornya. Ia pun menjawab dengan rendah hati, “Oh, iya Burung Gagak. Kamu memang yang tercantik di antara kami.”

               
    Setelah mereka berbincang beberapa saat, kemudian Burung Gagak terbang berputar-putar mengelilingi taman itu. Tanpa disadari, bulu ekor Burung Merak yang ditancapkan di ekornya terjatuh. Burung Merak yang ada dibawah pun memanggil Burung Gagak, “Hai Gagak, tahukah engkau kalau bulu merak yang engkau tancapkan di ekormu terjatuh? Burung Gagak terkejut dan sangat malu.

                Tapi justru Burung Merak iba melihat burung gagak yang buruk rupa ini ingin menjadi burung yang cantik. Kenudian Burung Merak berkata, “ Gagak temanku. Maukah kau ku beri beberapa ekor lembar bulu ekorku dan aku akan bantu memasangkannya pada ekormu?” Akhirnya Burung Gagak menyadari apa yang telah dilakukannya. “Oh Merak, betapa baiknya dirimu. Sekarang aku sadar bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi umat-Nya. Akupun harus mensyukurinya dan menerima apa adanya.

    Kedua burung itupun saling berpelukan dan burung Gagak pun berjanji akan selalu rendah hati, karena Tuhan tidak membedakan perbedaan fisik makhluknya. Amal dan perbuatanlah yang menentukan baik buruknya seorang makhluk di hadapan-Nya. Setelah itu Burung Gagak terbang Jauh-jauh entah kemana, namun dalam benaknya ia berkata, “Suatu saat nanti aku akan membawa keluarga dan teman-temanku ketaman indah yang penghuninyacantik, ramah, dan rendah hati ini.”

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Cerita Anak: Lebah dan Kupu-kupu

    Dahulu, ada sebuah pulau yang banyak sekali dikunjungi wisatawan. Sebetulnya pulau itu sangat jauh dan terpencil. Namun, apa gerangan yang membuat banyak sekali wisatawan ingin mengunjungi pulau tersebut? Ternyata pemandangan di pulau itu sangat indah, banyak bunga beraneka warna macam dan ragamnya. Selain itu, banyak sekali lebah yang pada akhirnya diternakan oleh para penghuni pulau itu. Wajarlah bila pulau itu terkenal pula dengan madunya yang beraneka rasa, sesuai dengan bunga yang dihisap oleh lebah yang bersangkutan. Dan yang lebih menakjubkan lagi, disitu terdapat ribuan kupu-kupu yang sangat beraneka ragam jenisnya. Mulai dari kupu-kupu yang sangat kwcil sampai yang sangat besar. Begitu pula dengan corak sayapnya yang begitu indah dan menakjubkan. Di pulau inilah kita akan terharu dan terpesona oleh kebesaran tuhan.

                Banyak pengunjung maupun perajin memanfaatkan keindahan kupu-kupu itu untuk di buat cindra mata. Mengingat harga cindra mata itu terbilang mahal, maka setiap hari banyak orang yang menangkap atau menjala kupu-kupu tersebut. Karena penangkapan kupu-kupu itu telah berlangsung bertahun-tahun, maka jumlahnyapun semakin berkurang.

                Ternyata, di antara keceriaan dan keindahan yang sangat mengagumkan, ada sebuah kesedihan yang mendalam. Di pagi yang cerah, disaat kebanyakan kupu-kupu dan binatang lain menghisap madu, ada seekor kupu-kupu besar dan sangat indah diam termenung, hinggap disebuah daun. Tak lama kemudian, datanglah seekor lebah menyapanya.

                “Hei, Kupu-kupu! Kenapa kamu termenung sedih disitu?” Lalu kupu-kupu menjawab, “Oh, Lebah engkau tahu keberadaan pulau ini sekarang? Banyak sekali pengunjung dan pengrajin yang sengaja menangkap teman-temanku untuk dijadikan cindra mata. Sedangkan kelompok lebah tidak ada yang berani mengganggu, apalagi menangkap. Bahkan lebah diternakkan sehingga jumlahnya justru semakin banyak. Sedangkan kelompok kupu-kupu mungkin suatu saat akan punah jika banyak orang yang menangkap kupu-kupu tanpa ada batasannya. Apalagi jika menggunakan jarring,” jelas kupu-kupu. Dengan berurai air mata, kupu-kupu tersebut mengutarakan semua itu pada lebah.

               
    Lebah merasa iba mendengar cerita kupu-kupu, maka ia pun meninggalkan Kupu-kupu kembali kesarangnya. Ia menceritakan kisah sedih ini kepada teman-temannya. Akhirnya mereka bersepakat menolong Kupu-kupu tersebut. Jika mereka melihat pengunjung atau pengrajin yang hendak menangkap kupu-kupu, maka lebah-lebah pun akan berada disekelilingnya sehingga mereka tidak jadi menangkap kupu-kupu karena takut disengat lebah.

                Benar juga, para pengunjung dan pengrajin kupu-kupu tidak berani menangkap kupu-kupu. Mereka menyadari perlunya menjaga keberadaan dan melestarikan kupu-kupu di pulau itu. Para perajin, pedagang cindra mata, dan pengunjung mematuhi peraturan tersebut, bahwa mereka hanya diperbolehkan mengambil kupu-kupu yang sudah mati untuk dijadikan cindra mata ataupun sebagai bahan penelitian. Jumlah kupu-kupu yang mati ternyata cukup banyak, karena setelah bertelur, mereeka tidak bertahan hidup lebih lama lagi.

    Setelah situasi tenang dan kehidupan berbagai binatang dan serangga di situ merasa aman, kupu-kupu pun mencari lebah yang telah menolongnya. Akhirnya bertemulah mareka. kupu-kupu sangat berterimakasih kepada lebah yang menyelamatkannya dari kepunahan. Sampai sekarang, pulau itu dikenal dengan nama”Pulau Kupu-kupu” yang selalu dipenuhi wisatawan dalam negeri maupun mancanegara.

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Cerita Anak: Tikus dan Burung Hantu


    Malam hari adalah kehidupan bagi kelompok Burung Hantu, karena mereka mencari mangsa pada saat hari mulai gelap. Burung ini merupakan burung buas karena termasuk pemakan daging. Selain burug hantu, banyak binatang kecil lain yang hidup di malam hari pula, diantaranya kelompok tikus. Mereka kadang tinggal di persawahan, menghabiskan padi-padi pak tani. Kelompok tikus ini sangat takut apabila mendengar suar Burung Hantu. Mata burung hantu sangat tajam di malam hari, sehingga jika tidak hati-hati, di mana pun tikus berada, dia akan terlihat dan diterkamnya.


    Di suatu petang, ada seekor induk tikus dengan 3 ekor anaknya bergegas menuju sarangnya karena sebentar lagi aka nada sekelompok Burung Hantu yang mencari mangsa. Tanpa disadari, saat mencari tempat persembunyian, seekor anak tikus tertinggal jauh di belakang dan terlihat ole seekor burung hantu. Dicengkeramnyalah anak tikus tersebut.


    Begitu mendengar cit-cit-cit, induk tikus itu bergeges keluar dari semak-semak dan berteriak, “Hai, Burung Hantu! Apakah kamu akan kenyang memakan ankku yang masih kecil itu? Aku akan menyediakan sepiring daging untukmu jika kamu mau melepaskan anakku, pasti engkau akan lebih kenyang. “Burung Hantu tetap tidak menggubris apa yang diketakan induk tikus. Ia tetap membawa bayi tiku itu ke sarangnya, tapi ia pun tidak memangsanya. Ia ingin membuktikkan apakah yang dikatakan induk Tikus itu benar, karena baginya tidak mudah mendapatkan mangsa.


    Sementara itu, induk Tikus menangis dan kebingungan melihat tingkah burung hatu tersebut. Ia bergegas mencari teman-teman dan saudara-saudaranya untuk mendapatkan sepiring daging. Setelah tersedia, dipanggillah Burung Hantu itu oleh sekelompok tikus itu, burung hantu pun terkejut. “Betapa hebatnya tikus-tikus itu dengan cepatnya mendapatkan mangsa untukku. Kerja sama mereka sangat baik,” kata Burung Hantu dalam hati.


    Burung hantupun akhirnya menyerahkan anak tikus itu kepada induknya. Dengan lekas induk tikus lari menggendongnya dan lansung menyusui karena anak tikus itu sudah mulai lemas, bahkan hamper mati. Setelah anaknya kembali sehat, induk Tikus pun menemui Burung Hantu, kemudian katanya, “Terima kasih Burung Hantu, engkau telah baik hati pada kami. Karen itu, untuk ketrentaman dan persahabatan kita, aku dan teman-temanku akan membantu mencarikan mansa untukmu. Aku dan teman-temanku akan memberikan sinya kepadamu, sehingga kamu dapat dengan mudah mendapatkan mangsa.


    Akhirnya Burung Hantu yang selalu melorotkan matanya itu bisa tersenyum. Dalam benaknya, ia tidak ingin merusak ketrentaman kelompok binatang lain. Kedua kelompok ini akhirnya bersatu, bekerja sama untuk mendapatkan mangsa. Jika kelompok Tikus melihat ular sawah yang mengancam mereka, maka mereka memberitahukannya kepada Burung Hantu. Sang Burung Hantupun dengan senang hati menolong kelompok Tikus. Disamping itu, kelompok tikus pun sangat senang kerena mereka bisa leluasa mencari makan saat senja dan malam hari.

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Cerita Anak: Burung Bangau dan Ikan


    Di sebuah danau yang sangat luas, tinggallah sekelompok burung bangau yang setiap hari memangsa ikan-ikan yang ada di danau itu. Semula di danau tersebut banyak sekali ikan. Namun, setelah sekelompok burung bangau mendatangi dan menetap di sekitar danau, perlahan-lahan habislah ikan-ikan yang selalu ada di danau. Tetapi ada seekor ikan yang selalu bersembunyi dibalik bebatuan yang ada di danau tersebut, sehingga ia terhindar dari ancaman burung bangau.

                Karena danau itu mulai sepi dari ikan, sekelompok burung bangau tersebut ingin pergi mencari tempat lain. Diutuslah sekelompok kecil burung bangau untuk mencari tempat baru yang masih lumayan banyak ikannya.

                Setelah terbang cukup lama, mereka berhasil menemukan danau lain yang ternyata masih banyak ikan yang menghuni di tempat itu. Mereka pun kemudian terbang kembali untuk memberitahukan hal tersebut kepada teman-temannya yang lain. Akhirnya mereka semua bersepakat untuk meninggalkan danau tersebut. Berbondong-bondong mereka terbang melewati banyak pulau, sungai, dan hutan-hutan. Akhirnya, sampailah mereka di danau yang sangat indah dan masih banyak ikan dan binatang lain yang bisa dijadikan santapan mereka.


                Namun, tanpa mereka sadari, di danau yang lama masih tertinggal seekor burung bangau tua yang enggan meninggalkan danau tersebut. Setelah sekelompok burung bangau itu pergi, seekor ikan yang semula selalu bersembunyi mulai berani muncul dan berenang kesana kemari meskipun hatinya sedih kerena tidak ada teman seekor ikan pun. Ia masih berharap sebentar lagi dirinya akan segera bertelur dan setelah menetas kelak danau ini akan dipenuhi ikan-ikan lagi. Ikan tersebut terus asyik berenang kian kemari, tetapi tiba-tiba ia terkejut ketika melihat di pinggir danau masih ada seekor burung bangau yang tertinggal. Dari kejauhan ikan pun memberanikan diri untuk menyapanya. “Hai burung bangau! Kenapa kau masih ada di sini? Bukankah kelompokmu sudah pergi jauh meninggalkan danau ini? Apakah kamu masih ingin memangsaku? Sehingga danau ini menjadi mati dan tak berpenghuni?” Tanya ikan. Burung bangaupun menjawab dengan ramah, “Hei ikan! Jangan takut denganku, aku akan tinggal di danau ini sampai akhir hayatku karena aku sudah tua. Aku tidak akan memangsamu, aku ingin memangsa yang lain yang ada disekitar danau ini, “ujar bangau.

                Tanpa ia sadari, ikan tersebut meneteskan air matanya. Ia sangat berterima kasih pada burung bangau tua tersebut dan ikan pun berkata, “Burung bangau yang baik, sebentar lagi aku akan bertelur dan anak-anakku akan menetas. Aku ingin danau ini dipenuhi ikan lagi. Sehingga suatu saat nanti menjadi sebuah danau yang bisa dinikmati keindahannya oleh siapapun yang berkunjung kesini,”ujar ikan. Bangau yang mendengar perkataan ikan pun terharu dan mengerti akan sebuah kebaikan. Akhirnya, ikan pun menghilang, bersembunyi disela-sela batu. Ternyata ikan itu sedang bertelur. Sempat danau itu sepi bak tak berpenghuni, dan bangau tua itu pun sempat khawatir dengan keberadaan si ikan.

                Hari demi hari dilalui bangau dalam kesendirian. Sampai pada suatu saat, menetaslah semua anak ikan. Sang Bangau belum juga menyadari aada perubahan apa di dalam danau, karena ikan-ikan itu masih sangat kecil. Sebulan telah berlalu, mulailah anak-anak ikan bisa dilihat dengan mata, karena mereka sudah mulai sadar bahwa ikan yang selama ini tidak menampakkan diri ternyata sedang bertelur dan mengasuh anak-anaknya sampai mereka bisa mencari makan sendiri. Kini induk ikan merasa senang karena di dalam danau itu mulai banyak penghuninya. Dan ia teringat pula tentang keberadaan bangau tersebut. Masih adakah? Atau sudah mati?


                Ternyata, di suatu pagi yang cerah, ia masih dipertemukan dengan sang bangau tua itu, lalu induk ikan pun menyapanya. Dengan perasaan haru ia melihat keadaan sang bangau yang terlihat makin tua. Hampir setiap hari bangau itu berdiri di atas batu di tepi danau, memandang jauh kedepan seolah hidup ini sangat melelahkan.

                Akhirnya, saat berbincang dengan induk ikan, ia pun berkata, “Sahabatku ikan, aku sudah lelah manghadapi hidup ini. Jika suatu saat datang ajalku di atas batu ini, semoga pengunjung disini berminat membuat patung bangau di atas batu ini dan menguburku di tepi danau ini mengerti bahwa dahulu kala danau ini pernah dihuni oleh sekelompok burung bangau.”

                Ternyata apa yang dikatakan burung bangau pun menjadi kenyataan, 7 hari setelah bangau tua dan induk ikan berbincang, burung bangau tua itu menerima ajalnya tepat di atas batu. Badannya terbujur kaku, dan induk ikan yang setiap hari menemani burung bangau itu pun terkejut melihat jasad sang bangau tua itu tergolek diatas batu. Menangislah induk ikan tersebut, dikumpilkalah anak-anaknya dan ia pun berucap pada mereka, “Anak-anakku, kau melihat apa yang ada di atas batu? Itu adalah jasad seekor burung bangau yang sangat baik hati. Ia tidak memangsaku, tetapi ia memberi kesempatan aku dan kalian untuk bisa hidup dan berkembang biak. Karena itu pengunjung yang datang bisa menikmati keindahan danau ini.”

                Setelah hari beranjak siang, mulailah pengunjung mendatangi danau itu dan mereka masih sempat menyaksikan jasad burung bangau di atas batu dan mereka bersepakat untuk menguburkan burung bangau itu di tepi danau. Ternyata di antara pengunjung ada seorang seniman yang berniat membangun patung bangau di atas batu tersebut.

                Setelah beberapa waktu, patung itu selesailah sudah. Legalah hati induk ikan karena apa yang diinginkan sahabatnya terwujud sudah. Akhirnya, danau itu banyak dikunjungi oleh para wisatawan dan dikenal dengan julukan “Danau yang Berikan Jinak”. Karena ikan yang ada di danau itu akrab dengan para pengunjung dan pengunjung pun tidak ada yang bermaksud menangkap atau memancingnya. Mereka membiarkan ikan-ikan itu hidup bebas dan berkembang biak.

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Cerita Anak: Persahabatan Tikus dan Kucing

    Di sebuah rumah yang sangat besar dan luas, tinggallah seekor kucing sendirian  yang menunggu rumah itu. Karena majikannya pergi bekerja setiap hari dan pulang setelah larut malam, maka makanan yang disediakan untuk si kucing  hanya roti dan keju.

           “Sangat bosan rasanya jika setiap hari aku harus makan makanan ini. Majikanku tidak mengerti apa makanan kesukaanku,” gerutu si Kucing sambil menatapi sepiring roti dan keju.

                 Tiba-tiba ia mendengar benda terjatuh. Rupanya ada Sesuatu dirumah ini. Setelah di lihat ternyata, ada seekor tikus yang ketakutan melihat dirinya, sehingga menjatuhkan benda di atas meja. Anehnya kucing tersebut tidak mengejar si Tikus tersebut. Ia merasa iba dan ia pun menyapanya, “Hei Tikus jangan takut! Justru aku mencari teman karena setiap hari aku sendiri, dan makanan yang di sediakan majikanku hanya roti dan keju,” kata Kucing. “Oh.., roti dan keju? Itu makanan kesukaanku! Sedangkan di tempat tinggalku, majikanku setiap harinya hanya menyajikan nasi dan ikan,”kata Tikus. “Oh, ikan? Tanya Kucing. “itu makanan kesukaanku!” seru kucing.

                  Dengan demikian, keduanya keduanya tidak merasa kesepian lagi. Mereka bermain bersama, bercanda, bahkan saling membantu dalam keadaan suka dan duka. Persahabatan mereka pun semakin erat.

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Cerita Anak: Katak dan Ular

    Di musim kemarau yang sangat panjang, semua kolam sudah mengering, seekor katak sepertinya tak tahan lagi hidup karena seluruh kulitnya kering. Mencari setetes air pun sangat sulit. Dalam lesunya hidup, tiba-tiba muncullah seekor ular yang sangat besar, dengan desisnya yang amat menyeramkan.

                Karena ketakutan, larilah katak tunggang langgang. Tapi anehnya, ular menyapanya. “Hei, Katak! Jangan takut kau denganku. Aku tidak akan memangsa binatang sekecil kamu. Bagiku, kamu hanya akan menempel di gigiku saja, apalagi badanmu kurus kering seperti itu. Aku makan hanya sebulan sekali. Makananku seekor domba, rusa, dan binatang-binatang lain yang besar,” jelas Ular.

                Katak pun terkejut. “Oh, Ular itu tidak akan menerkamku,” ujar katak lega. Akhirnya Katak memberanikan diri mendekati sang Ular. “Oh Ular yang baik, tahukah kau di musim kemarau yang panjang ini masih adakah kolam yang belum kering? Aku sudah tak tahan lagi untuk hidup. Setiap hari yang kutunggu adalah datangnya hujan,”ujar Katak.

                Tanpa diduga ternyata ular tersebut mengetahui masih ada satu kolam yang belum mengering, bahkan Ularpun bersedia mangantar sang Katak ke sana. Pada mulanya katak terlihat ragu-ragu, ia takut ular akan menipunya.

               
    Akhirnya, Katak mau untuk naik kepunggun Ular karena ia sudah tidak berdaya lagi jika harus berjalan terlalu jauh. Tanpa terasa dank arena keenakan, sampailah mereka di sebuah kolam yang airnya pun tinggal sedikit lagi.

        Ular pun berkata,” Hai katak, tinggallah disini sampai musim hujan tiba.” Dengan senangnya Katak melompat dari punggung Ular, dan langsung masuk ke dalam kolam dan berbisiklah ia, “Ya Tuhan, Engkau masih memberiku umur panjang.” Setelah cukup puas Katak berenang, di hampirinya Ular yang menunggu di pinggir kolam.

                Katak pun berkata, “Ular yang baik hati, terima kasih banyak engkau telah menyelamatkan aku dari bencana kekeringan yang panjang.”

                Kini musim kemarau hampir berlalu. Sedikit demi sedikit titik-titik air jatuh ke bumi, pertanda musim hujan akan segera tiba. Akhirnya Katak dan Ular pun menjadi sahabat yang sangat kental. Mereka saling membantu, bahkan setiap satu bulan sekali katak ikut mengintai mangsa yang kiranaya bias di santap oleh Ular, sehingga Ular pun bisa dengan mudah menerkamnya. Keduanya saling menjaga sehingga terhindar dari bencana.



    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Cerita Anak: Semangka Emas


    Muzakir mengamati Dermawan dari jauh. “Dasar manusia bodoh, dinasehati berkali-kali masih saja melakukan!” umpat Muzakir. Dia memperhatikan ketika adiknya sedang membagi-bagikan makanan kepada orang miskin dari rumah mewahnya.

                    “Kalau hartamu habis, aku tidak sudi membagikan harta kekayaanku padamu. Sepeser pun tidak akan! Aku akan menjadi orang terkaya di negeri ini. Hahaha!” Muzakir tertawa licik.

                    Sejak kecil, Muzakir memang selalu ingin lebih unggul daripada adiknya Dermawan, adiknya semata wayang. Di hatinya selalu timbul rasa iri dan dengki jika melihat Dermawan lebih disayang oleh orangtuanya . Untunglah sang ayah memahami sifat Muzakir. Sebelum meniggal, saudagar kaya di sambas itu membagikan kekayaannya kepada kedua putranya, Muzakir dan Dermawan secara adil.

                    Setelah mendapat warisan, Muzakir yang kikir itu segera membeli peti besi untuk menyimpan hartanya. Bila ada orang miskin yang dating ke rumahnya untuk meminta sedekah, Muzakir pasti mencemooh dan menertawakannya. Sebaliknya, Dermawan sangat peduli pada sesame.

                    “Hei, Dermawan! Kalau hartamu selalu kaubagi-bagikan, lama-kelamaan akan habis. Kau akan jatuh miskin seperti gembel-gembel itu,” ujar Muzakir memperingatkan adiknya. “Apa kau tidak takut jadi miskin, heh?”

                    Dermawan hanya tersenyum menanggapi kekhawatiran Muzakir. “Tidak akan, kak. Kau salah besar. Justru dengan membagi-bagikan apa yang kita punya pada orang yang membutuhkan, kita akan semakin kaya. Harta itu Cuma titipan Tuhan yang sewaktu waktu bisa diambil kembali. Tuhan member kita harta sebagai sarana untuk beribadah, bukan untuk disimpan, apalagi ditumpuk-tumpuk.”

                    “Ah, persetan kau! Jangan menasehati orang kaya yang lebih tua!” potong Muzakir kesal. Bertahun-tahun kemudian, apa yang dikatakan Muzakir menjadi kenyataan. Dermawan jatuh miskin. Dermawan pun berkebun untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

                    “Hei dermawan, apa kubilang? Sekarang baru tahu rasa kau, ya? Mana buktinya kalau hartamu semakin melimpah?” Muzakir tersenyum sinis. Dia merasa di atas angin.

                    Dermawan berusaha tetap tenang menanggapi sindiran kakaknya. “Kekayaan itu bukan hanya berwujud materi, Kak. Kesabaran seseorang juga tanda bahwa dia kaya, yaitu kaya hati.”

                    “Hahaha! Adikku, kau ini ada-ada saja.” Tak henti-hentinya Muzakir menertawakan Dermawan.

                    Dermawan baru saja selesai bekerja di kebun. Ia sangat kelelahan, lalu ia berteduh di bawah pohon pekarangan rumahnya. Tiba-tiba seekor burung pipit jatuh tepat di depannya. Burung itu mencicit kesakitan.

                    Dermawan segera mendekati burung malang itu dan mengangkatnya. Rupanya burung malang itu terluka dan sayapnya patah. Dermawan segera mengobati burung kecil itu dan merawatnya. Dermawan memberi burung itu segenggam beras untuk makan sehari-hari. Burung itu pun jadi jinak dan tidak takut pada Dermawan. Akhirnya, si burung sembuh dan bisa terbang lagi.

                    Keesokan harinya, burung itu kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada sebutir biji dan diletakkannya di depan Dermawan. Dermawan tertawa melihatnya. Biji itu adalah biji biasa saja. Meski demikian, senang juga hatinya menerima hadiah pemberian burung itu. Biji itu lalu ditanam di belakang rumahnya.

                    Tiga minggu kemudian, tumbuhlah biji itu. Ternyata biji itu adalah tanaman semangka. Dermawan memelihara tanaman itu dengan baik sehingga tumbuh subur. Pada mulanya Dermawan menyangka buahnya akan banyak. Namun, aneh, meskipun buahnya banyak, yang menjadi buah ternyata hanya satu. Ukuran semangka ini luar biasa besarnya, jauh lebih besar dari semangka biasanya. Buahnya tampak sedap dan harum baunya.

                    Setelah masak, Dermawan memetik buah semangka itu. Amboi, bukan main beratnya! Dermawan mengangkat semangka tersebut dengan kedua tangannya sambil terengah-engah.

                    Dermawan meletakkan semangka itu di atas meja dan membelahnya. Setelah semangka terbelah, betapa kagetnya Dermawan. Isi semangka itu hanyalah pasir kuning yang menumpuk di mejanya. Namun, ketika di perhatikan sungguh-sungguh, ternyata pasir itu adalah emas murni!

                    Dermawan pun langsung bersujud, bersyukur pada Tuhan. Di luar rumah, burung pipit yang pernah ditolongnya dulu hinggap di sebuah tonggak. “Wahai, Burung pipit, terima kasih telah memberiku biji tanaman yang ajaib ini!” seru Dermawan. Burung itu pun terbang tanpa kembali lagi.

                    Keesokan harinya Dermawan membeli rumah yang bagus dengan pekarangan yang sangat luas. Semua orang miskin yang datang kerumahnya di berinya makan. Hasil kebunnya pun semakin melimpah ruah.

                    Rupanya hal ini membuat Muzakir iri hati. Muzakir yang ingin mengetahui rahasia Dermawan, lalu pergi kerumah adik. Dermawan pun menceritakan semuanya dengan jujur.

                    Mendengar cerita Dermawan, Muzakir langsung memerintahkan pelayannya pergi ke hutan untu mencari burung yang patah kaki atau patah sayapnya. Namun, hingga satu minggu lamanya, seekor burung yang demikian itu tak kunjung di temukan. Muzakir sangat marah dan tak nyenyak tidurnya.

                    Paginya, Muzakir mendapat ide. Diperintahkannya seorang pelayan untuk menangkap burung dengan perangkap jepit. Tentu saja sayap burung itu menjadi patah. Muzakir pura-pura kasihan melihat burung itu dan membalut luka pada sayapnya. Setelah beberapa hari, burung itu pun sembuh dan dilepaskan terbang kembali.

                    Keesokan harinya, burung itu pun kembali ke Muzakir untuk memberikan sebutir biji. Muzakir sungguh gembira. Biji pemberian burung itu ditanamnya di kebun. Tumbuhlah semangka yang subur berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu, dan ukurannya lebih besar daripada semangka Dermawan. Ketika dipanen, dua pelayan Muzakir denga susah payah membawanya kedalam rumah karena sangat berat.

                    Muzakir membawa parang. Dia sendiri yang akan membelah semangka itu. Begitu semangka itu di potong, menyemburlah dari dalam buah itu lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani indah di ruang tamunya tak luput dari siraman lumpur dan kotoran itu. Muzakir berlari ke jalan sambil menjerit-jerit. Orang-orang yang melihatnya tertawa terbahak-bahak.

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    CERITA ANAK DESA KALIANYAR



    Bissmillahirrahmannirrahiim

    Assalamuallaikum Warrahmatullaahi Wabarrakaatuhu

    Ada sedikit cerita tentang saya (otoy) & alam desa saya yang indah di ujung selatan dari kampung saya ada sungai yang banyak bocah'' kecil pada mandi di kali sambil mainkan air di kesejukan alam desa & berhektar petak sawah yang luas membentang selepas mata memandang. Rasa syukur yang selanjutnya saya dibesarkan di Sebuah desa yang masih menyimpan keindahan.

    Alam yang indah dengan berpetak-petak sawah hijau menjadi laboratorium alami, sejak kecil saya suka bermain ditempat ini, ikut ibu buruh tani, bersepedaan dengan teman-teman kecil mencari bunga sawah dan menangkap kupu-kupu, sampai mencari ikan-ikan di aliran sungai kecil (kalen pembuangan kalo kata orang kali anyar) yang sebenarnya tak banyak ikan disana kemudian pulang dengan kondisi belepotan dan basah-basahan terkena lumpur sawah. Tak cukup sampai disini.

    Cerita unik saya dengan sawah, saya pernah ikut menanam padi kalo kata orang kali anyar ( tandur) sebelum musim tandur datang sawah paling tidak harus di traktor dulu ketika sawah lagi di traktor biasanya banyak belut & saya sama temen''. saat musim tandur tiba setiap pagi orang pada berbondong'' pergi ke sawah saat orang'' pada tandur eh saya malah cari kodok sama yuyu. jadinya di marahin orang deh. hhehhehe

    Saat pesta panen tiba para petani desa mulai memetik harapan, orang'' pada motong, saya mencari buangan padai kalo kata orang kali anyar (ngasag) saat pesta panen tiba gubuk reot pun menyambut mereka (para petani) tuk ber istirahat sejenak, & saat senja datang mereka pulang dengan senyum membawa harapan. dapat banyak padinya.

    ET bukan Hanya sampe di sini masih ada lagi lhoooo

    masih ada cerita tentang saya & dam kidul

    cerita saya otoy & kali kidul (dam) dulu kalo musim panas kata orang x-anyar (ketiga) banyak orang yang mandi di sini karna semua sungai & sumur kekeringan, di tempat ini dulu saya sering mandi sambil terjun dari atap pintu air itu & di tambaknya pun saya sering main slorakan, kalo saya lagi terjun dari atap pintu air rasanya mengerikan takut sekali tapi saya suka & senang, di sebelah sana arah yang mau ke bantar dulu saya sama temen'' saya sering mancing ikan gabus yang pancingnya banyak khusus pancing ikan gabus.

    umpanya pun harus pake kodok kalo kata orang kali anyar (pancing ajar) pada suatu ketika saya lagi nungguin pancing, saya kira pancing saya di makan ikan gabus eh gak taunya di makan ular pucuk. saya langsung lari terbintal" saking takutnya lagi yang buat saya marah napas lagi ngap''an malah di ketwain sama si ( gojing kodok caem oglek trus karina ) maklum masi anak'' tapi bukan cuma itu & cukup sampai di sini aja msaih ada lagi.

    dengan ke indahan dam kidul sangat luasnya mata mendandang kita juga bisa melihat pohon'' & rumput'' yang begitu indah & permai dulu di sekitar dam juga saya mencari batang kayu buat bikin panggalan (gangsing kayu) sama saudara saya (karina keprot) kalo saya mencari kayu pasti yang saya cari kayu yang ada durinya soalnya bagus buat bikin gangsing, pernah suatu ketika saya mencuri batang kayu terus ketahuan sama yang punya kebonya, kepala saya langsung di pentung pake ember saking sakitnya sampai saya nangis. hikhikhik

    kata orang tua dulu kampung ini namanya bukan desa kali anyar tapi namanya (karang jekeng) karna ada pembuatan sungai irigasi baru lalu di namakan desa kali anyar sebenarnya tempat ini mempunyai panorama yang sangat indah, pemandangan sawah yang luas membentang mumbuat tempat ini menjadi elok & asri mungkin kalo berada di tengah'' kota sudah pasti tempat inibakal di jadikan objek wisata.

    itulah sedikit cerita saya otoy & kampung saya mungkin sampai di sini dulu cerita saya & jujur saya bangga menjadi anak desa, karna mempunyai banyak kenangan di kampung saya yang masih terekam di dalam memori ingatan saya tidak lupa juga segala puji & syukur kepada Allah swt. yang menjadikan saya sebagai anak desa.  ILOVE KALI ANYAR.

    pengirim : otoy bin wanidi (angidiaja@gmail.com)

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Cerita Kancil si pencuri Timun - Cerita Bergambar Anak

    Awal kisah.. pada Siang hari yang panas sekali. Matahari bersinar dengan teriknya. Akan tetapi hal itu tidak terlalu dirasakan sama si Kancil. Dia sedang tidur nyenyak di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba saja mimpi indahnya terputus. "Tolong! Tolong! " terdengar teriakan dan jeritan berulang-ulang. Lalu terdengar suara derap kaki binatang yang sedang berlari-lari.

    "Ada apa, sih?" kata Kancil. Matanya berkejap-kejap, terasa berat untuk dibuka karena masih mengantuk.
    Di kejauhan tampak segerombolan binatang berlari-lari menuju ke arahnya. "Kebakaran! Kebakaran! " teriak Kambing. " Ayo lari, Cil! Ada kebakaran di hutan! " Memang benar. Asap tebal membubung tinggi ke angkasa. Kancil ketakutan melihatnya. Dia langsung bangkit dan berlari mengikuti teman-temannya. Kancil terus berlari. Wah, cepat juga larinya. Ya, walaupun Kancil bertubuh kecil, tapi dia dapat berlari cepat. Tanpa terasa, Kancil telah berlari jauh, meninggalkan teman-temannya.

    "Aduh, napasku habis rasanya," Kancil berhenti dengan napas terengah-engah, lalu duduk beristirahat. "Lho, di mana binatang-binatang lainnya?" Walaupun Kancil senang karena lolos dari bahaya, tiba-tiba ia merasa takut. "Wah, aku berada di mana sekarang? Sepertinya belum pernah ke sini. Kancil berjalan sambil mengamati daerah sekitarnya. "Waduh, aku tersesat. Sendirian lagi. Bagaimana ini?' Kancil semakin takut dan bingung. "Tuhan, tolonglah aku."

    Kancil terus berjalan menjelajahi hutan yang belum pernah dilaluinya. Tanpa terasa, dia tiba di pinggir hutan. Ia melihat sebuah ladang milik Pak Tani. "Ladang sayur dan buah-buahan? Oh, syukurlah. Terima kasih, Tuhan," mata Kancil membelalak. Ladang itu penuh dengan sayur dan buah-buahan yang siap dipanen. Wow, asyik sekali! "Kebetulan nih, aku haus dan lapar sekali," kata Kancil sambil menelan air liurnya. "Tenggorokanku juga terasa kering. Dan perutku keroncongan minta diisi. Makan dulu, ah."

    Dengan tanpa dosa, Kancil melahap sayur dan buahbuahan yang ada di ladang. Wah, kasihan Pak Tani. Dia pasti marah kalau melihat kejadian ini. Si Kancil nakal sekali, ya?  "Hmm, sedap sekali," kata Kancil sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan. "Andai setiap hari pesta seperti ini, pasti asyik."

    Setelah puas, Kancil merebahkan dirinya di bawah sebatang pohon yang rindang. Semilir angin yang bertiup, membuatnya mengantuk. "Oahem, aku jadi kepingin tidur lagi," kata Kancil sambil menguap.  Akhirnya binatang yang nakal itu tertidur, melanjutkan tidur siangnya yang terganggu gara-gara kebakaran di hutan tadi. Wah, tidurnya begitu pulas, sampai terdengar suara dengkurannya. Krr... krr... krrr...

    Ketika bangun pada keesokan harinya, Kancil merasa lapar lagi. "Wah, pesta berlanjut lagi, nih," kata Kancil pada dirinya sendiri. "Kali ini aku pilih-pilih dulu, ah. Siapa tahu ada buah timun kesukaanku."  Maka Kancil berjalan-jalan mengitari ladang Pak Tani yang luas itu. "Wow, itu dia yang kucari! " seru Kancil gembira. "Hmm, timunnya kelihatan begitu segar. Besarbesar lagi! Wah, pasti sedap nih."  Kancil langsung makan buah timun sampai kenyang. "Wow, sedap sekali sarapan timun," kata Kancil sambil tersenyum puas.  Hari sudah agak siang. Lalu Kancil kembali ke bawah pohon rindang untuk beristirahat.

    Pak Tani terkejut sekali ketika melihat ladangnya. "Wah, ladang timunku kok jadi berantakan-begini," kata Pak Tani geram. "Perbuatan siapa, ya? Pasti ada hama baru yang ganas. Atau mungkinkah ada bocah nakal atau binatang lapar yang mencuri timunku?" Ladang timun itu memang benar-benar berantakan. Banyak pohon timun yang rusak karena terinjak-injak. Dan banyak pula serpihan buah timun yang berserakan di tanah.  @ Hm, awas, ya, kalau sampai tertangkap! " omel Pak Tani sambil mengibas-ngibaskan sabitnya. "Panen timunku jadi berantakan."  Maka seharian Pak Tani sibuk membenahi kembali ladangnya yang berantakan.



    Dari tempat istirahatnya, Kancil terus memperhatikan Pak Tani itu. "Hmm, dia pasti yang bernama Pak Tani," kata Kancil pada dirinya sendiri. "Kumisnya boleh juga. Tebal,' hitam, dan melengkung ke atas. Lucu sekali. Hi... hi... hi... Sebelumnya Kancil memang belum pernah bertemu dengan manusia. Tapi dia sering mendengar cerita tentang Pak Tani dari teman-temannya. "Aduh, Pak Tani kok lama ya," ujar Kancil. Ya, dia telah menunggu lama sekali. Siang itu Kancil ingin makan timun lagi. Rupanya dia ketagihan makan buah timun yang segar itu.



    Sore harinya, Pak Tani pulang sambil memanggul keranjang berisi timun di bahunya. Dia pulang sambil mengomel, karena hasil panennya jadi berkurang. Dan waktunya habis untuk menata kembali ladangnya yang berantakan.
    "Ah, akhirnya tiba juga waktu yang kutunggu-tunggu," Kancil bangkit dan berjalan ke ladang. Binatang yang nakal itu kembali berpesta makan timun Pak Tani.

    Keesokan harinya, Pak Tani geram dan marah-marah melihat ladangnya berantakan lagi. "Benar-benar keterlaluan! " seru Pak Tani sambil mengepalkan tangannya. "Ternyata tanaman lainnya juga rusak dan dicuri."
    Pak Tani berlutut di tanah untuk mengetahui jejak si pencuri. "Hmm, pencurinya pasti binatang," kata Pak Tani. "Jejak kaki manusia tidak begini bentuknya."

    Pemilik ladang yang malang itu bertekad untuk menangkap si pencuri. "Aku harus membuat perangkap untuk menangkapnya! " Maka Pak Tani segera meninggalkan ladang. Setiba di rumahnya, dia membuat sebuah boneka yang menyerupai manusia. Lalu dia melumuri orang-orangan ladang itu dengan getah nangka yang lengket!

    Pak Tani kembali lagi ke ladang. Orang-orangan itu dipasangnya di tengah ladang timun. Bentuknya persis seperti manusia yang sedang berjaga-jaga. Pakaiannya yang kedodoran berkibar-kibar tertiup angin. Sementara kepalanya memakai caping, seperti milik Pak Tani.

    "Wah, sepertinya Pak Tani tidak sendiri lagi," ucap Kancil, yang melihat dari kejauhan. "Ia datang bersama temannya. Tapi mengapa temannya diam saja, dan Pak Tani meninggalkannya sendirian di tengah ladang?" Lama sekali Kancil menunggu kepergian teman Pak Tani. Akhirnya dia tak tahan. "Ah, lebih baik aku ke sana," kata Kancil memutuskan. "Sekalian minta maaf karena telah mencuri timun Pak Tani. Siapa tahu aku malah diberinya timun gratis."

    "Maafkan saya, Pak," sesal Kancil di depan orangorangan ladang itu. "Sayalah yang telah mencuri timun Pak Tani. Perut saya lapar sekali. Bapak tidak marah, kan?" Tentu saj,a orang-orangan ladang itu tidak menjawab. Berkali-kali Kancil meminta maaf. Tapi orang-orangan itu tetap diam. Wajahnya tersenyum, tampak seperti mengejek Kancil. "Huh, sombong sekali!" seru Kancil marah. "Aku minta maaf kok diam saja. Malah tersenyum mengejek. Memangnya lucu apa?" gerutunya.

    Akhirnya Kancil tak tahan lagi. Ditinjunya orangorangan ladang itu dengan tangan kanan. Buuuk! Lho, kok tangannya tidak bisa ditarik? Ditinjunya lagi dengan tangan kiri. Buuuk! Wah, kini kedua tangannya melekat erat di tubuh boneka itu.
    " Lepaskan tanganku! " teriak Kancil j engkel. " Kalau tidak, kutendang kau! " Buuuk! Kini kaki si Kancil malah melekat juga di tubuh orang-orangan itu. "Aduh, bagaimana ini?"

    Sore harinya, Pak Tani kembali ke ladang. "Nah, ini dia pencurinya! " Pak Tani senang melihat jebakannya berhasil. "Rupanya kau yang telah merusak ladang dan mencuri timunku." Pak Tani tertawa ketika melepaskan Kancil. "Katanya kancil binatang yang cerdik," ejek Pak Tani. "Tapi kok tertipu oleh orang-orangan ladang. Ha... ha... ha.... "Kancil pasrah saja ketika dibawa pulang ke rumah Pak Tani. Dia dikurung di dalam kandang ayam. Tapi Kancil terkejut ketika Pak Tani menyuruh istrinya menyiapkan bumbu sate.

    " Aku harus segera keluar malam ini juga  " tekad Kancil. Kalau tidak, tamatlah riwayatku. "Malam harinya, ketika seisi rumah sudah tidur, Kancil memanggil-manggil Anjing, si penjaga rumah. "Ssst... Anjing, kemarilah," bisik Kancil. "Perkenalkan, aku Kancil. Binatang piaraan baru Pak Tani. Tahukah kau? Besok aku akan diajak Pak Tani menghadiri pesta di rumah Pak Lurah. Asyik, ya?"

    Anjing terkejut mendengarnya. "Apa? Aku tak percaya! Aku yang sudah lama ikut Pak Tani saja tidak pernah diajak pergi. Eh, malah kau yang diajak."Kancil tersenyum penuh arti. "Yah, terserah kalau kau tidak percaya. Lihat saja besok! Aku tidak bohong! "Rupanya Anjing terpengaruh oleh kata-kata si Kancil. Dia meminta agar Kancil membujuk Pak Tani untuk mengajakn-ya pergi ke pesta. "Oke, aku akan berusaha membujuk Pak Tani," janji Kancil. "Tapi malam ini kau harus menemaniku tidur di kandang ayam. Bagaimana?" Anjing setuju dengan tawaran Kancil. Dia segera membuka gerendel pintu kandang, dan masuk. Dengan sigap, Kancil cepat-cepat keluar dari kandang.

    "Terima kasih," kata Kancil sambil menutup kembali gerendel pintu. "Maaf Iho, aku terpaksa berbohong. Titip salam ya, buat Pak Tani. Dan tolong sampaikan maafku padanya." Kancil segera berlari meninggalkan rumah Pak Tani. Anjing yang malang itu baru menyadari kejadian sebenarnya ketika Kancil sudah menghilang.

    Hikmah dari cerita ini adalah janganlah berbuat kejahatan jika kita tidak ingin orang lain jahat kepada kita. Apa yang kita tanam pasti akan kita tuai pada suatu saat, dan pastikan kita menanam kebaikan kepada orang lain sehingga orang lain mau berbaik sangka kepada kita.

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :